“Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, tapi jangan jadi pemimpi yang lupa bangun dari tidurnya”. (Soekarno).
Pernyataan
Bung karno tersebut hanyalah salah satu dari sekian banyak butiran
semangat yang pernah disampaikan kepada bangsa ini yang telah sekian
lama dijajah oleh bangsa asing. Pernyataan tersebut bukan hanya
mengandung makna spirit, tapi juga makna kultural, yaitu kita diajak
untuk terus melihat kedepan, melangkah kemasa depan, karena kitalah yang
sebenarnya menentukan mau kemana kita depan. Namun melihat jauh kedepan
juga bukan berarti kita berjalan terlalu tegak atau terlalu tunduk.
Berjalan terlalu tegak hanyalah akan menghasilkan kesombongan (arogan),
terlalu percaya diri (over confidence), merendahkan orang lain sehingga
mengabaikan komunitas sebagai penopang jati diri. Berjalan terlalu
tunduk juga hanya akan menghasilkan pesimisme dan ketidakberdayaan,
terombang-ambing, rendah diri dan tidak percaya akan kemampuan diri
sendiri. itulah sebenarnya esensi makna kata-kata yang diungkapan Bung
Karno. Tidak banyak pemimpin yang mampu menggugah semangat dan kesadaran
rakyatnya sampai ke titik nadir, sehingga rakyat walaupun miskin, tidak
punya apa-apa namun tetap memiliki keniscayaan hidup dan masa depan.
Dengan kata lain kita diajak untuk berpikir optimis namun realistis.
Merekam
pernyataan Bung Karno tersebut kedalam aktivitas keseharian kita
bekerja, bisa saja menjadi cermin bahwa aktivitas apapun tanpa dilandasi
oleh semangat keniscayaan akan suatu harapan yang lebih baik maka ia
akan terkungkung pada suatu budaya feodal yakni menerima apa adanya,
mengikuti arus tanpa mampu menilai seberapa besar riak dan gelombang dan
tidak memiliki semangat kompetitif dalam hidup. Oleh karenanya
menggali keniscayaan akan suatu harapan dalam bekerja, maka seseorang
paling tidak harus memiliki Totalitas, Orientasi dan Loyalitas (TOL).
Tiga hal itulah yang menjadi pilar utama membangun keniscayaan harapan
dalam bekerja sekaligus membangun semangat keberpihakan dan hubungan
konstruktif dengan organisasi/ lembaga ditempat kita bekerja.
Totalitas
identik dengan sungguh-sungguh, tidak main-main, tidak
setengah-setengah, rela berkorban, berani mengambil resiko terhadap
kontribusi yang diberikan dan hal-hal lain yang identik dengan itu.
Seseorang yang berfikir total, menunjukkan kecenderungan bahwa orang
tersebut telah melegitimasikan dirinya terhadap proses pemberdayaan diri
secara eksistensial. Secara kongkrit barangkali dapat dikemukakan bahwa
ketika orang tersebut sudah berada dalam suatu komunitas atau
lingkungan tempat dimana ia bekerja, maka fokus utama dalam mencari
keniscayaan hidup dalam bekerja adalah dengan menempatkan organisasi
atau tempat dimana kita bekerja sebagai suatu tempat utama diatas
segala-galanya setelah keluarga secara proporsional.
Orientasi
identik dengan harapan diri dalam bekerja. Orang yang semangat dalam
melakukan pekerjaan berarti ia telah memiliki orientasi dalam dirinya.
Sekecil apapun harapan tersebut haruslah seseorang itu memiliki
orientasi. Orientasi diri akan melahirkan suatu proses kematangan
berfikir, meningkatkan pengetahuan dan kecakapan dan yang paling utama
adalah mengembangkan proses pendewasaan bersikap dalam suatu budaya yang
diciptakan oleh organisasi. Sebab tanpa orientasi seseorang hanya akan
ditempatkan pada kelompok penggembira dan marjinal, yang mungkin tidak
akan dilihat oleh organisasi sebagai suatu upaya untuk menunjukkan
eksistensinya kepada organisasi. Orientasi diri bisa dilihat dari dua
aspek. Pertama dilihat dari aspek eksplisit. Orientasi diri jika dilihat
secara eksplisit dapat direfleksikan sebagai suatu keinginan personal
dalam lingkup pengakuan statusnya secara struktural dalam suatu
organisasi. Pengakuan status secara struktural ini menggambarkan bahwa
seseorang memiliki harapan diri ketika memang dalam konteks
berorganisasi atau bekerja, orang tersebut terpola pada suatu tatanan
yang memiliki nilai secara klasifikatif. Artinya seseorang akan memiliki
penghargaan terhadap dirinya ketika kemampuannya bekerja
dikompensasikan pada nilai statusnya pada tatanan struktur organisasi
atau ada jenjang karir yang jelas dan terbuka. Dengan demikian maka
jelas orientasi diri dalam konteks ini akan melahirkan semangat
kompetitif dalam bekerja. Orientasi diri dilihat secara implisit
maksudnya adalah setiap orang yang bekerja dalam suatu organisasi, pasti
memiliki harapan bahwa akan selalu ada proses peningkatan kemampuan
diri, baik yang berhubungan dengan aspek skill maupun yang berhubungan
dengan masalah-masalah atitude. Jika seseorang bekerja selama
bertahun-tahun, namun secara kualitatif tidak ada yang tampak berubah
dari kemampun dan sikap orang tersebut, maka sejatinya orang tersebut
tidak memiliki atau belum memiliki orientasi dalam dirinya. Seorang
dosen misalnya, walaupun ia sudah berpengalaman mengajar selama puluhan
tahun, namun mata kuliah yang diajarkannya hanya mata kuliah itu-itu
saja, maka sebenarnya dosen tersebut berpengalaman tidak lebih dari
hanya satu semester saja. Begitu pula instruktur, walaupun ia telah
bekerja selama beberapa tahun, namun kemampuan menguasai materi hanya
ada pada salah satu bidang pemprograman atau hanya satu aplikasi saja,
tanpa pernah mau mengembangkan pengetahuannya di bidang (program atau
aplikasi) lain, maka sebenarnya sama saja dengan ia punya pengalaman
bukan beberapa tahun tapi satu atau dua semester saja. Jadi dengan
demikian yang namanya orientasi diri itu harus ada dalam setiap diri
seorang karyawan, sebab dengan orientasi diri keniscayaan terhadap
pengakuan eksistensi seseorang dalam suatu lingkup organisasi akan
terlihat.
Berikutnya
adalah loyalitas. Loyalitas dipahami sebagai bentuk kesetiaan dan
keberpihakan seseorang ditempat ia beraktivitas. Kesetiaan mengandung
pengertian bahwa seseorang telah merasakan bahwa disamping kita telah
memberikan kontribusi, organisasi juga telah memberikan kompensasi. Hubungan
kausalitatif inilah yang memberikan reward bagi kedua belah pihak.
Reward dari organisasi kepada karyawan berupa legitimasi dari berbagai
aspek-termasuk kompensasi, reward dari karyawan kepada organisasi adalah
berupa loyalitas. Seseorang yang telah memiliki kesetiaan biasanya
terefleksikan kedalam aktivitas sehari-hari dalam pekerjaan. Misalnya ia
cenderung lebih aktif, lebih reaktif, dan memiliki filterisasi
organisasi yang tinggi. Kecenderungan lebih aktif dapat dipahami
biasanya orang tersebut memiliki daya inisiatif dan kreatifitas yang
tinggi. Seseorang yang sudah loyal kepada organisasi, maka ia akan
bekerja tanpa terlebih dahulu ada instruksi, ia lebih berinisiatif
melakukan berbagai hal demi kepentingan organisasi. Seseorang yang
memiliki kesetiaan juga biasanya lebih reaktif, banyak melakukan kritik,
saran dan hal-hal lainnya yang bersifat menakar kedalaman substansi
dari suatu program atau kebijakan organisasi. Jadi sebetulnya seseorang
yang banyak melakukan kritik dan saran kepada organisasi, jangan
dipahami sebagai orang yang tidak peduli dengan organisasi. Justru apa
yang dilakukannya adalah sebagai bentuk kecintaannya (sense of belongingnya)
terhadap organisasi tempat dimana ia bekerja. Lain soal memang jika
kritik, masukan dan berbagai kontribusi yang lain dilakukan secara
destruktif. Hal itu bukanlah menunjukkan keadaan dimana orang tersebut
memiliki loyalitas terhadap organisasi di tempat ia bekerja, justru
orang tersebut adalah merupakan kangker bagi organisasi. Organisasi
harus tegas ketika menghadapi orang-orang seperti ini, jika perlu
diamputasi (baca : dikeluarkan).
Tiga
pilar utama dalam bekerja yang telah disebutkan diatas sekali lagi
adalah merupakan deskripsi logis bagi suatu organisasi apabila ingin
menakar kedalaman substansi kontribusi seseorang. Tanpa kita harus
mengukur kontribusi seseorang, sebetulnya kita bisa melihat, apakah
orang tersebut memiliki keniscayaan bekerja atau tidak. Keniscayaan
bekerja adalah suatu kondisi dimana ketika seseorang bekerja, ia
memiliki cara, metode, dan kesempatan untuk mengembangkan eksistensi
dirinya demi suatu tujuan yang hendak dicapai. Tujuan tersebut apakah
tujuan yang bersifat pribadi atau tujuan organisasi. Upaya mengembangkan
eksistensi tersebut sekali dilakukan dengan mengedepankan proses
pemahaman totalitas, orientasi dan loyalitas. Tiga pilar tadi sekali
lagi menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa menafikan bahwa setiap orang
dalam suatu komunitas, terlebih-lebih komunitas kerja, ia akan
bersinggungan dengan parameter berorganisasi (dalam konteks ini
bekerja). Nilai-nilai tersebut meliputi, obsesi, harapan dan
keberpihakannya terhadap organisasi. Oleh karenannya memahami “TOL”
dalam konteks ini merupakan salah satu upaya melakukan proposisi
obyektif bahwa sesuatu yang dilakukan oleh seseorang ditempat kerja,
ketika ia bersinggungan dengan persoalan eksistensi dirinya, maka adalah
wajar dan sah-sah saja bahkan harus seseorang itu memiliki semangat
“TOL” tadi. Jika hal tersebut dilegitimasi organisasi secara terbuka
dengan semangat egalitarianisme, maka konsepsi “jangan tanya apa yang
organisasi berikan, tapi apa yang bisa kita berikan buat organisasi”
akan menjadi kenyataan dikemudian hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar